Manunggaling Kawula Gusti Syekh Siti Jenar

Ditulis oleh: Belva Nuriana Rosidea (AB2 KAMMI Jember)

Sumber gambar youtube.com

Syekh Siti Jenar adalah seorang tokoh sufi yang cukup kontroversial. Perannya sebagai dai di tanah Jawa membuatnya mendapat julukan Syekh Siti Jenar yang diambil dari bahasa Jawa. Siti memiliki arti lemah (tanah), sedangkan Jenar berarti abang (merah). Syekh Siti Jenar  di tanah Jawa juga dikenal sebagai Syekh Lemah Abang. Menurut Babad Demak dan Babad Tanah Jawi, bahwa asal-usul Syekh Lemah Abang adalah seekor cacing yang berubah menjadi manusia setelah mendengar wejangan rahasia Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga di atas perahu di tengah laut. Namun, pendapat ini tidak rasional.1 Sedangkan menurut naskah Wangsakertan Cirebon yang berjudul Negara Kretabhumi Sargha III, pupuh 76 tokoh yang bernama Syekh Lemah Abang itu lahir di Malaka dengan nama Abdul Jalil. Ia putra Syekh Datuk Shaleh.2

Seperti yang kita ketahui bahwa sebelum Islam datang, agama nenek moyang bangsa Indonesia adalah Hindu dan Buddha. Lebih lama lagi kepercayaan yang mereka anut adalah animisme dan dinamisme. Sejak dahulu kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang bangsa Indonesia, baik itu animisme, dinamisme, Hindu, atau Buddha, kesemuanya sarat akan hal-hal mistis, sesajen, dan benda-benda yang diumpamakan sebagai wujud Sang Maha Kuasa. Ketika Islam datang dengan ajarannya, bahwa Tuhan itu adalah Allah Yang Esa dan tidak terlihat oleh indra, tentu sulit diterima. Hingga datanglah Walisongo sebagai penyiar agama di pulau Jawa dengan metode dakwah mereka yang luwes dan menyesuaikan dengan budaya masyarakat Jawa saat itu. Hal ini membuat ajaran Islam mudah diterima bahkan berhasil menjadi agama mayoritas. Namun, selain Walisongo, ada juga wali lain yang turut serta menyebarkan agama di pulau Jawa, salah satunya Syekh Siti Jenar yang terkenal kontroversi akan ajaran-ajarannya.

Syekh Siti Jenar terkenal dengan ajarannya yang berbau tasawuf (tarekat Akmaliyah dan tarekat Syathariyah), yaitu Manunggaling Kawula Gusti’, yang bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan. Menurutnya, hal itu sesuai dengan Firman Allah dalam surah Shaad ayat 71-72 yang menerangkan tentang penciptaan manusia, yang artinya adalah, “Ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kalian tersungkur dengan bersujud kepadanya’. Ayat tersebut ditafsirkan bahwa Tuhan meniupkan sebagian ruh-Nya kepada manusia pertama (Adam), sehingga dapat dikatakan manusia adalah bagian dari Tuhan itu sendiri. Selain itu, ajaran ‘Manunggaling Kawula Gusti’ bisa diartikan sebagai bersatunya manusia dengan Tuhan, bahwa Tuhan (Allah) ada di dalam diri setiap manusia itu sendiri. Ajaran ini tentu kurang tepat, kerena jelas berbeda antara Allah sebagai Tuhan (Pencipta), dengan manusia sebagai hamba (yang diciptakan).

Pencipta dan yang diciptakan tidak mungkin sama. Menurut tauhid asma’ wa sifat, bahwasannya Allah memiliki segala sifat mulia, segala hal baik ada dalam diri-Nya dan segala hal buruk terhindar dari-Nya. Sedangkan manusia adalah makhluk yang tidak luput dari dosa. Bagaimana mungkin Zat yang Maha Mulia bisa ditemukan dalam diri makhluk yang penuh dosa? Syekh Siti Jenar sejatinya mengajarkan pemahaman ketauhidan melewati empat tahap,3 yaitu:

1.    Syariat, yakni dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti shalat, zakat, dan lain-lain.

2.    Tarekat, yakni dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, zikir dalam waktu dan hitungan tertentu.

3.    Hakikat, yakni dimana hakikat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan.

4.    Makrifat, yakni kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.

Ajaran Syekh Siti Jenar saat itu cenderung mengarah pada tingkatan hakikat dan makrifat, dimana pada tingkat ini orang-orang merasa tidak perlu lagi melakukan ibadah seperti shalat, mengaji, dsb, karena ia menganggap dirinya sudah melewati tingkatan syariat dan tarekat. Sehingga, mereka sudah merasa berhubungan dengan Allah dalam keadaan apapun bahkan tanpa melakukan ritual shalat, dsb. Tentu ini tidak benar, karena menurut ajarah tauhid Uluhiyah, bahwa setiap muslim harus melaksanakan ibadah hanya kepada Allah, dan bentuk ibadah yang diajarkan salah satunya adalah shalat. Bahkan shalat itu sendiri merupakan pilar kedua dari rukun Islam. Jika seorang muslim tidak melaksanakan salah satu rukun, salah satunya shalat, bagaimana ia bisa disebut muslim? Dalam suatu hadis juga diceritakan bahwa Rasulullah Muhammad yang sudah dijamin masuk surga pun tetap melakukan shalat bahkan sampai kakinya bengkak, semata-mata sebagai wujud syukur atas jaminan surga yang diberikan Allah. Seandainya tingkatan hakikat dan makrifat itu benar-benar ada, seorang manusia terbaik sepanjang masa yaitu Rasulullah sudah pasti di tingkatan makrifat dan tidak perlu pula melakukan ibadah shalat, dan lainnya. Jika Rasulullah saja yang sudah dijamin masuk surga tetap melaksanakan shalat hingga bengkak kakinya, pantaskah umatnya yang belum dijamin surga meninggalkan shalat?

Menurut riwayat, pengetahuan Syekh Siti Jenar akan tasawuf (tarekat Akmaliyah dan tarekat Syathariyah), diperolehnya dari Baghdad. Sewaktu memasuki usia dewasa, ia pergi menuntut ilmu di Persia dan tinggal di Baghdad selama kurang lebih 17 tahun. Ia berguru kepada seorang Mullah Syiah Munthadar (Syiah Imamiyah) dan menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan agama.4 Dari sini terlihat bahwa Syekh Siti Jenar belajar dari seorang bermazhab Syiah Imamiyah, dimana mahzab ini dianggap menyimpang dari ajaran Islam itu sendiri. Sebagai seorang muslim, kita adalah umat Rasulullah Muhammad. Rasulullah diutus sebagai rasul untuk memberi contoh baik perilaku maupun tata cara beribadah yang benar kepada umatnya. Jadi sudah jelas, bahwa yang seharusnya ditiru oleh seorang muslim adalah Rasulullah Muhammad, dan bahwa Islam yang benar adalah Islam yang dibawa dan dipraktikan oleh Rasulullah. Wallahu a’lam bishawab.

Referensi:

1Sunyoto, Agus, 2012, Suluk Abdul Jalil, buku I, LKiS, Yogyakarta.

 

2Ibid.

 

3Chodjim, Ahmad, 2004, Syekh Siti Jenar: Makna Kematian, Serambi, Jakarta.

 

3Sunyoto, Agus, 2012, Suluk Abdul Jalil, buku I, LKiS, Yogyakarta.

 

4Kandito, Argawi, 2012, Pengakuan-pengakuan Syaikh Siti Jenar, Pustaka Pesantren, Yogyakarta.

 

Tidak ada komentar